Basyirun Adhim Kepala Madrasah Aliyah Ruhul Amin (kiri), Irsa C Muchtar santri bahari (tengah), Ruhama Muchtar, Komunitas Famili Filantropi (kanan)(Foto:RRI Surabaya)
KBRN, Surabaya : Hari Anak Nasional yang diperingati setiap
tanggal 23 juli, di warnai dengan ragam kegiatan positif di sekolah. Tak jarang
banyak masyarakat yang mengabadikan momen hari anak nasional dengan berbagai
cara dan hal-hal baik. Sesuai dengan tema hari anak nasional pada tahun ini
yaitu "Anak Terlindungi, Indonesia Maju", dengan enam subtema yang
disesuaikan dengan isu-isu anak terkini dan relevan, yaitu Anak Cerdas
Berinternet Sehat; Suara Anak Membangun Bangsa; Pancasila di Hati Anak
Indonesia; Dare to Lead and Speak Up: Anak Pelopor dan Pelapor; Pengasuhan
Layak untuk Anak: Digital Parenting; serta Anak Merdeka dari Kekerasan,
Perkawinan Anak, Pekerja Anak, dan Stunting.
Basyirun
Adhim Kepala Madrasah Aliyah Ruhul Amin memaknai hari anak nasional ini dengan
hal yang menarik. "Sesuai dengan tema HAN tahun ini, kami mempunyai cara
sendiri bagaimana membuat anak-anak Indonesia cerdas melalui gerakan yang kami
rancang,"ujarnya.
Di Madrasah Aliyah Ruhul Amin menganut
prinsip Semarak (Sekolah dan Madrasah Ramah Anak). Fokusnya bagaimana anak bisa
tumbuh berkembang disekolah tanpa ada gangguan seperti perundungan. Karena sekolah atau madrasah harus menjadi
rumah aman kedua bagi anak-anak.
Ada total 117
titik lokasi sekolah atau madrasah dan pondok pesantren yang tersebar di
seluruh Indonesia, dengan program yang diperuntukkan bagi anak-anak yang kurang
beruntung dalam mengenyam pendidikan. Sesuai amanat UUD 1945 bahwa
setiap anak berhak mendapatkan pendidikan yang layak.
"Banyak upaya yang kami lakukan agar bisa menjangkau
daerah 3T (Tertinggal,Terdepan dan Terluar) dengan kehadiran Bahari dan Famili
Filantropi," kata Gus Adhim saat berbincang dengan RRI dalam program
Mozaik Indonesia (27/07/2024).
Sementara
itu menurut Irsa C Muchtar seorang santri bahari, dengan keberadaan
program bahari, banyak anak yang ada di pesisir terluar mampu menjangkau
pendidikan.
"Kebetulan saya juga terlibat menjadi salah satu santri
yang juga membantu memberikan kegiatan belajar mengajar untuk anak-anak pesisir
Kepulauan Riau," ujarnya.
Kegiatan ini dilakukan karena mereka tahu bahwa banyak anak
pesisir yang putus sekolah, mereka memilih untuk membantu ekonomi keluarga demi
bisa bertahan hidup. Padahal kesempatan mereka bersekolah itu ada, dengan
mengenyam pendidikan secara tidak langsung ada banyak keluarga yang bisa
berubah lebih baik lagi.
Dengan bekal
pendidikan, maka kesempatan kita untuk berpenghasilan tinggi juga terbuka
lebar. "Kami selalu mengajak dan memotivasi teman-teman pesisir
untuk sekolah. Bahkan sekolah yang dikuti teman-teman di pulau juga mendapatkan
ijazah karena yayasan yang menanungi sekolah ini yang akan membiayai siswa dan
siswi yang akan mengikuti ujian," kata Irsa.
Tidak hanya soal
pendidikan akademik saja yang menjadi fokus utama, melainkan Pendidikan
karakter anak juga menjadi bagian dari kegiatan belajar mengajar.
Sementara itu
menurut Putri Ruhama Muchtar, dari Komunitas Famili Filantropi bahwa
anak-anak diberi praktik belajar yang berbeda dari sekolah formal pada umumnya.
"Di
Sekolah, Madrasah dan Ponpes ini karakter adek-adek akan dibentuk. Dengan cara
apa? dengan praktik langsung. Adek-adek akan di minta untuk membantu mengurus
lansia, dan mereka juga diberi tugas untuk menyiapkan permakanan lansia
juga,"ujarnya.
Ditambahkan
Putri, tujuan melibatkan mereka adalah saat mereka di bebani dengan
tanggung jawab sampai sejauh mana mereka mampu menjalankannya dan juga
menumbuhkan rasa empati terhadap orang lain. Di tempat kami menanamkan saling
mengasihi dan menyayangi bahkan jika tidak ada ikatan darah.
"Dengan hal
demikian kami yakin bisa mencegah terjadinya perundungan yang sedang marak
dikalangan sekolah hingga ponpes," kata Putri.
Gus Adhim berharap anak-anak yang berada
di daerah 3T mendapatkan pendidikan yang layak, dan banyak uluran tangan yang
peduli akan keberadaan mereka.
"Kami satu
dari sekian banyaknya sekolah atau madrasah dan ponpes yang memiliki kepedulian
untuk adek-adek yang berada diwilayah 3T, harapannya pemerintah pusat melalui
pemerintah daerah setempat juga telah memikirkan formula apa yang tepat untuk
mereka yang ada di daerah 3T agar bisa mengenyam pendidikan yang sama,
sederajat dengan yang ada di kota-kota besar," katanya.
Oleh: Djayanti Presti Anggraeni Editor: Rini Rustriani
Lesti Handayani 28 Jul 2024 - 17:14
Berikan Komentar